GURU PEMBELAJAR, BAHAGIA MENGAJAR


Renungan dan Motivasi Hari Guru Nasional

Agussalim*)

[email protected]

“Guru Pembelajar, Bahagia Mengajar” menjadi tema sentral webinar Road to HGN 2023 yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan yang menghadirkan tiga nara sumber ini digelar secara daring pada Jumat, 24 November 2023. Nara sumber yang dihadirkan adalah Dr. Muhammad Zain, M.Ag (Direktur GTK Kemenag RI), Dr. Muh. Tonang, S.Ag, M.Ag (Kabid Penmad Kemenag Prov. Sul-Sel) dan Prof. Hamdan Juhannis, M.Ag (Rektor UIN Alauddin Makassar). Adapun yang dipercaya sebagai host adalah Darmawati, S.Ag, M.Ag (Kepala MAN 2 Makassar) dan moderator adalah Muhammad Qasim, S.Ag, M.Ag (Penmad Kemenag Prov. Sul-Sel).

Muh. Tonang yang menjadi pembicara pertama sekaligus membuka kegiatan mengomentari tema “Guru Pembelajar, Bahagia Mengajar” sebagai tema yang luar biasa dan sangat berarti. Kabid Penmad Kemenag Prov. Sul-Sel ini kemudian menjelaskan bahwa Guru Pembelajar adalah guru yang dalam pengabdiannya total lahiriah dan batiniah. Ia bukan hanya mentransfer ilmu dan pengetahuan tetapi juga nilai seperti rasa empati. Selanjutnya Guru Pembelajar harus memiliki rasa bangga dan bahagia saat mengajar agar terjalin interaksi yang bersifat kekeluargaan di madrasah. Secara khusus ia memuji kehidupan di madrasah, khususnya di Sulawesi Selatan penuh dengan interaksi kekeluargaan.

Matinya Seorang Guru dan Teaching by Heart

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemenag RI, Muhammad Zain yang menjadi pembicara kedua memulai penjelasannya dengan menyinggung beberapa program Kementerian Agama RI. Program dimaksud bertujuan memberikan pelayanan maksimal kepada jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya guru. Di antara bentuk pelayanan itu adalah kenaikan pangkat secara online.

Muhammad Zain juga memberikan apresiasi terkait seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di jajaran Kementerian Agama, sehubungan dengan tingkat kelulusan yang mencapai 70%. Menurutnya, ini menjadi indikator tingginya sumber daya manusia di Kementerian Agama.

Selanjutnya senada dengan Muh. Tonang, Muhammad Zain memuji tema “Guru Pembelajar, Bahagia Mengajar” sebagai tema yang sangat besar terutama dengan adanya tantangan artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Itulah sebabnya, guru harus bisa memanfaatkan teknologi informatika dan telekomunikasi (IT). Selain perlu mengupdate informasi, juga harus memakai prinsip fleksibilitas dalam mengajar. Apalagi zaman sekarang sedang tidak baik-baik saja, sehingga guru memang harus mengupdate informasi.

Akhirnya, putra Sulawesi Barat ini mengingatkan bahwa kematian seseorang adalah saat ia berhenti belajar. Itulah sebabnya, guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Selanjutnya saat mengajar di kelas ia harus menerapkan prinsip Teaching by Heart. Mengajar juga harus dengan kecerdasan spiritual dan emosional, kemudian melengkapinya dengan wisdom (kearifan).

Penyakit yang Harus Dihindari oleh Guru

Pesan di atas adalah kesimpulan penulis terkait materi yang dipaparkan oleh Prof. Hamdan Juhannis, M.Ag. Rektor UIN Alauddin-Makassar ini memulai penjelasannya dengan memberi motivasi bahwa Guru Pembelajar adalah mereka yang sering belajar dan sering membandingkan. Kalau kita tidak mau lagi belajar, maka akan ketinggalan dan tertinggal dari rombongan, dengan kata lain akan jalan di tempat.

Menurut salah satu Guru Besar termuda dalam sejarah UIN Alauddin ini, Guru Pembelajar adalah mereka yang selalu mengupdate ilmu pengetahuan dan wawasan. Hanya dengan demikian mereka layak disebut terpelajar. Apalagi guru saat ini berhadapan dengan peserta didik yang juga mengupdate dirinya dengan memanfaatkan teknologi IT.

Selanjutnya sosok muda yang otobiografinya pernah diangkat ke layar lebar ini menekankan bahwa guru harus membebaskan dirinya dari beberapa penyakit antiketerpelajaran di antaranya “gaptek”, “mager”, “baper”, “kepo”, “sekke”, “letih”, “lesu” dan “kudis”.

“Gaptek” adalah singkatan dari gagap teknologi, “mager” singkatan dari malas bergerak, dan “baper” singkatan dari terbawa perasaan sehingga mudah tersinggung. Khusus guru baper, ia tidak akan mampu berkomunikasi dengan baik bahkan terkadang memboikot pembelajaran dengan peserta didiknya.

Selanjutnya, Guru Pembelajar juga harus menghindari penyakit “kepo” karena ini dapat menyebabkan guru mengalami disorientasi. Akibatnya, ia tidak lagi profesional dalam menjalankan tugas meskipun ia sudah tersertifikasi sebagai Guru Profesional.

Adapun penyakit “sekke’” diambil dari istilah Bugis yang artinya kikir atau pelit. Maksudnya Guru Pembelajar tidak boleh pelit atau kikir dalam membelanjakan hartanya untuk membeli buku, laptop dan sebagainya. Sehingga dengan demikian, ketika guru sudah terbebas dari penyakit sekke’ ini maka ia juga akan terbebas dari penyakit “letih” (lemah teknologi), “lesu” (lemah sumber) dan “kudis” (kurang disiplin).

Akhirnya, Hamdan menyimpulkan bahwa guru yang telah membebaskan dirinya dari berbagai penyakit di ataslah yang akan menjadi guru yang berbahagia. Guru seperti inilah yang akan mengalami “puncak kenikmatan” saat berhadapan dengan peserta didiknya. Guru seperti ini pula yang akan mendukung visi “Indonesia Emas”.

Bahagia Beda dengan Senang

Pendapat ini dikemukakan oleh Hamdan saat menjawab pertanyaan seorang peserta. Menurutnya, tidak tepat jika dikatakan bahwa kebahagiaan guru karena menerima gaji/tunjangan. Itu lebih tepat jika disebut kesenangan. Adapun kebahagiaan merupakan sesuatu yang sangat mendasar, bukan hanya kesenangan tetapi juga ketenangan. Kebahagiaan tidak tergantung pada materi, sedangkan kesenangan tergantung dari materi yang diterima. Itulah sebabnya, jika materi itu hilang maka kesenangan juga akan sirna.

Tantangan Guru Pembelajar

Di akhir pemaparannya, Hamdan Juhannis kembali mengingatkan bahwa gadget/smartphone telah membuat hidup manusia hancur lebur dan terombang-ambing karena teknologi ini telah merasuk dalam segala sendi kehidupan manusia. Sekali lagi, tantangannya adalah bagaimana seorang Guru Pembelajar memanfaatkan gadget/smartphone ini untuk kepentingan peningkatan profesionalismenya tidak sekadar menjadi media mengupdate status.

*) Penulis adalah Guru Sejarah pada MAN 2 Bulukumba